CREDIT UNION & PELAYANAN DIAKONIA MODERN : Dari Memberi Bantuan Menjadi , Membangun Kemandirian
Pelayanan diakonia gereja selama ini sering dipahami sebagai kegiatan menolong
mereka yang sedang mengalami kesulitan. Gereja mengumpulkan persembahan
kasih, membagikan sembako, memberikan bantuan ketika ada warga yang sakit,
membantu keluarga yang mengalami kedukaan, atau meringankan beban mereka
yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi.
Semua itu baik. Semua itu penting.
Namun pertanyaannya adalah: apakah pelayanan diakonia cukup berhenti
pada memberi bantuan?
Bukankah ada saat ketika gereja perlu menolong seseorang bukan hanya supaya
ia dapat bertahan hidup hari ini, tetapi juga supaya ia mampu membangun
kehidupan yang lebih baik untuk hari esok?
Di sinilah kita perlu berbicara tentang diakonia modern.
Diakonia modern bukan berarti gereja meninggalkan pola pelayanan kasih yang
selama ini dilakukan. Sebaliknya, diakonia modern memperluas cara gereja
menyatakan kasih. Gereja tidak hanya hadir ketika seseorang sudah jatuh, tetapi
juga membantu agar seseorang mempunyai kekuatan untuk berdiri.
Bukan hanya memberikan ikan.
1
Tetapi juga membantu seseorang belajar menangkap ikan.
Bahkan lebih jauh lagi: membangun kolam, mengembangkan keterampilan,
dan menciptakan kesempatan agar kehidupan dapat bertumbuh.
Salah satu bentuk yang menarik untuk dikembangkan adalah Credit Union (CU).
Credit Union pada dasarnya bukan sekadar tempat meminjam uang. Bila
dikembangkan dengan semangat pelayanan, CU dapat menjadi ruang
pembelajaran ekonomi, membangun budaya menabung, meningkatkan
kemampuan mengelola keuangan, mengembangkan usaha, dan menumbuhkan
semangat saling menolong.
Di sinilah gereja dapat melihat sebuah kemungkinan baru.
Pelayanan ekonomi bukan sekadar persoalan uang. Pelayanan ekonomi
adalah pelayanan terhadap martabat manusia.
DARI BANTUAN MENUJU PEMBERDAYAAN
Ada perbedaan besar antara membantu seseorang bertahan dan membantu
seseorang berkembang.
Ketika seseorang lapar, kita memberikan makanan.
Itu kasih.
Ketika seseorang sakit, kita membantu biaya pengobatan.
Itu kasih.
Ketika sebuah keluarga mengalami musibah, kita hadir dan berbagi beban.
Itu kasih.
Tetapi kalau persoalan ekonominya terus berulang, gereja perlu bertanya lebih
jauh:
Mengapa keluarga itu selalu berada dalam kesulitan?
Apakah karena tidak mempunyai penghasilan yang cukup?
Apakah karena tidak mempunyai keterampilan?
2
Apakah karena tidak mampu mengelola keuangan?
Apakah karena terlilit utang?
Apakah karena tidak mempunyai modal untuk mengembangkan usaha?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membawa kita dari diakonia karitatif menuju
diakonia pemberdayaan.
Diakonia karitatif memberikan pertolongan ketika seseorang membutuhkan.
Diakonia pemberdayaan berusaha membangun kemampuan agar seseorang
semakin mampu menghadapi kehidupannya.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Ada orang yang memang membutuhkan bantuan langsung.
Tetapi ada pula orang yang sebenarnya tidak membutuhkan belas kasihan terus
menerus. Mereka membutuhkan kesempatan, pendampingan, pengetahuan,
dan akses.
Dan di sinilah Credit Union dapat menjadi salah satu instrumen pelayanan.
CREDIT UNION: BELAJAR MENOLONG DIRI SENDIRI
Credit Union mempunyai semangat yang menarik: kekuatan bersama.
Orang-orang yang bergabung bukan sekadar menjadi penerima manfaat. Mereka
menjadi bagian dari komunitas yang belajar membangun kesejahteraan bersama.
Sedikit demi sedikit menabung.
Belajar mengatur keuangan.
Belajar membedakan kebutuhan dan keinginan.
Belajar menggunakan pinjaman secara bertanggung jawab.
Belajar mengembangkan usaha.
Belajar membuat perencanaan keuangan keluarga.
3
Dan yang tidak kalah penting:
belajar bertanggung jawab terhadap keputusan ekonomi sendiri.
Bayangkan sebuah keluarga yang setiap bulan selalu kekurangan uang.
Kalau gereja hanya memberikan bantuan, mungkin keluarga itu dapat melewati
bulan tersebut.
Tetapi bulan berikutnya persoalan yang sama muncul kembali.
Namun jika keluarga itu didampingi untuk membuat anggaran rumah tangga,
belajar menabung, mengurangi utang konsumtif, meningkatkan keterampilan,
dan membangun usaha kecil, maka bantuan mulai berubah menjadi proses
pemberdayaan.
Di sinilah diakonia mempunyai wajah baru.
Gereja tidak hanya berkata:
“Kami akan menolongmu.”
Tetapi juga:
“Mari kita belajar bersama supaya kehidupanmu menjadi lebih kuat.”
Kalimat kedua bukan berarti gereja menjadi kurang murah hati.
Justru sebaliknya.
Kasih yang dewasa tidak hanya membuat seseorang merasa ditolong.
Kasih yang dewasa juga menolong seseorang menemukan kembali kekuatan
yang ada di dalam dirinya.
GEREJA BUKAN BANK, TETAPI GEREJA DAPAT MENJADI
PENDAMPING
Tentu perlu kehati-hatian.
Gereja bukan lembaga keuangan.
Pelayanan gereja juga tidak boleh berubah menjadi kegiatan mencari keuntungan.
4
Karena itu, apabila gereja hendak mengembangkan Credit Union atau bekerja
sama dengan lembaga CU, harus ada tata kelola yang sehat, transparan,
profesional, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Yang paling penting adalah jangan sampai pelayanan ekonomi justru
menimbulkan masalah baru.
Jangan sampai orang miskin diberi pinjaman tanpa pendampingan.
Jangan sampai utang konsumtif dianggap sebagai solusi kemiskinan.
Jangan sampai gereja mendorong orang berutang untuk memenuhi gaya hidup.
Sebaliknya, semangat yang perlu dibangun adalah:
menabung, merencanakan, menggunakan secara bijak, mengembangkan
produktivitas, dan bertumbuh bersama.
Karena itu, pelayanan CU dalam konteks gereja sebaiknya tidak berdiri sendiri.
Ia perlu berjalan bersama pendidikan.
Pendidikan literasi keuangan.
Pendidikan kewirausahaan.
Pendampingan usaha.
Pembinaan keluarga.
Pengembangan keterampilan.
Dan pembentukan karakter.
Dengan demikian, CU bukan hanya berbicara tentang uang yang dipinjam,
tetapi tentang manusia yang dibangun.
DIAKONIA YANG MEMBANGUN MARTABAT
Ada sesuatu yang sangat penting dalam pelayanan ekonomi: martabat manusia.
Orang yang menerima bantuan bukanlah orang yang lebih rendah.
5
Ia bukan objek belas kasihan.
Ia adalah manusia yang memiliki kemampuan, talenta, pengalaman, dan potensi.
Karena itu, pelayanan diakonia seharusnya tidak membuat seseorang merasa
kecil.
Sebaliknya, pelayanan harus membantu seseorang menemukan kembali harga
dirinya.
Seorang ibu yang sebelumnya hanya menjadi penerima bantuan mungkin suatu
hari mampu mengembangkan usaha makanan kecil.
Seorang bapak yang dahulu terlilit utang mungkin belajar mengatur keuangan dan
perlahan keluar dari jerat utang.
Seorang pemuda yang tidak mempunyai pekerjaan mungkin memperoleh
keterampilan dan memulai usaha.
Perubahan seperti itu jauh lebih besar daripada sekadar angka rupiah.
Yang berubah bukan hanya kondisi ekonomi. Yang berubah adalah cara
seseorang memandang dirinya sendiri.
Dari:
“Saya tidak mampu.”
menjadi:
“Saya bisa belajar.”
Dari:
“Saya hanya bisa menerima.”
menjadi:
“Saya juga bisa menghasilkan.”
Dari:
“Saya selalu membutuhkan bantuan.”
menjadi:
6
“Suatu hari saya juga dapat membantu orang lain.”
Inilah diakonia yang membangun.
DARI PENERIMA MENJADI PEMBERI
Mungkin inilah gambaran paling indah tentang diakonia modern.
Bayangkan seseorang yang dahulu menerima bantuan gereja.
Beberapa tahun kemudian kehidupannya mulai berubah.
Ia mempunyai usaha.
Ia mulai mampu menabung.
Anaknya dapat bersekolah.
Keluarganya lebih tertata.
Dan suatu hari ia datang kepada gereja bukan untuk meminta bantuan.
Ia datang membawa persembahan.
Ia datang menawarkan waktu.
Ia datang membantu keluarga lain.
Ia berkata:
“Dulu saya pernah ditolong. Sekarang saya ingin menolong orang lain.”
Bukankah itu sebuah kesaksian yang indah?
Di situlah pelayanan kasih menghasilkan buah.
Orang yang dahulu ditolong menjadi orang yang menolong.
Orang yang dahulu menerima menjadi orang yang memberi.
Orang yang dahulu berdiri di belakang tangan yang diulurkan kepadanya,
akhirnya mampu mengulurkan tangan kepada orang lain.
7
Inilah diakonia yang tidak menciptakan ketergantungan, tetapi melahirkan
kemandirian.
CREDIT UNION SEBAGAI SEKOLAH KEHIDUPAN
Karena itu, jika Credit Union dikembangkan dalam semangat pelayanan, kita
jangan hanya melihatnya sebagai lembaga simpan-pinjam.
Lihatlah ia sebagai sekolah kehidupan.
Di sana orang belajar disiplin.
Belajar menabung.
Belajar merencanakan masa depan.
Belajar bertanggung jawab.
Belajar bekerja.
Belajar mengelola risiko.
Belajar membangun usaha.
Dan yang paling penting:
belajar bahwa kesejahteraan bukan hanya sesuatu yang diterima, tetapi
sesuatu yang juga harus dibangun.
Gereja dapat mengambil bagian dalam proses itu.
Bukan dengan menggantikan tanggung jawab setiap orang.
Tetapi dengan berjalan bersama.
Mendampingi.
Mendidik.
Menguatkan.
Membuka akses.
Dan menciptakan ekosistem yang memungkinkan warga gereja bertumbuh.
8
AKHIRNYA, DIAKONIA ADALAH TENTANG KASIH YANG
MEMBUAT ORANG BANGKIT
Gereja dipanggil untuk hadir di tengah penderitaan manusia.
Tetapi kehadiran gereja jangan hanya terasa ketika seseorang sudah jatuh.
Gereja juga harus hadir untuk membantu seseorang bangkit.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita memperluas cara memahami diakonia.
Diakonia bukan hanya:
memberi sembako.
Bukan hanya:
membayar biaya pengobatan.
Bukan hanya:
memberikan bantuan ketika ada musibah.
Semua itu tetap penting.
Tetapi diakonia juga dapat berarti:
mengajar orang mengelola keuangan.
Mendorong budaya menabung.
Mendampingi usaha kecil.
Membangun keterampilan.
Membuka akses permodalan yang sehat.
Membangun jejaring ekonomi.
Dan akhirnya:
menolong orang berdiri dengan kekuatannya sendiri.
9
Di sinilah Credit Union dapat menjadi salah satu bagian dari wajah diakonia
modern.
Bukan karena gereja ingin menjadi bank.
Bukan pula karena gereja ingin mengejar keuntungan.
Tetapi karena gereja percaya bahwa kasih Tuhan menyentuh seluruh
kehidupan manusia—termasuk kehidupan ekonomi.
Sebab manusia yang lapar membutuhkan makanan.
Manusia yang sakit membutuhkan pertolongan.
Tetapi manusia yang terus-menerus berada dalam ketidakberdayaan
membutuhkan sesuatu yang lebih:
kesempatan untuk bangkit.
Maka mungkin inilah kalimat yang layak kita pegang:
“Diakonia bukan hanya membuat orang mampu bertahan hari ini, tetapi
menolong mereka memiliki harapan dan kemampuan untuk membangun
hari esok.”
Dan ketika seseorang yang dahulu menerima bantuan akhirnya mampu menolong
orang lain, kita tahu bahwa pelayanan itu telah menghasilkan buah.
Dari bantuan menjadi pemberdayaan.
Dari ketergantungan menjadi kemandirian.
Dari penerima menjadi pemberi.
Dari kehidupan yang bertahan menjadi kehidupan yang bertumbuh.
Itulah wajah CREDIT UNION n& PELAYANAN DIAKONIA MODERN mELALUI CREDIT UNION.
HUT RI 81
Ester Ar. Pengurus CU Angudi Laras Purworejo
Anggota Pengawas CUAL



